
Mengutip ungkapan Imam al-Ghazali rahimahullâhu dalam kitab At-Tibr al-Masbuuk fii Nashiihah al-Muluuk 1/19, Mubaligh Tangerang Selatan (Tangsel) Ustadz Abu Nadzira menyatakan bahwa agama dan kekuasaan ibarat dua saudara kembar.
“Agama dan kekuasaan itu ibarat saudara kembar; seperti dua saudara yang dilahirkan dari perut (rahim) yang sama.” kutipnya dalam Khubah Idul Fitri 1446 H di Lapangan atau Area Parkir Rumah Makan Pecel Lele PJA, Jalan Raya Viktor, Buaran Serpong, Ahad (30/3/2025)
Pasalnya, Ustadz Abu Nadzira menjelaskan, tanpa kekuasaan maka Islam tidak bisa ditegakkan. Begitu pun sebaliknya, tanpa Islam kekuasaan hanya akan membawa kehancuran.
“Agama adalah pondasi, sementara kekuasaan adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki pondasi akan runtuh. Apa saja yang tidak punya penjaga akan rubuh (sirna).” kutipnya lagi (Al-Ghazali, Al-Iqtishaad wa al-I’tiqaad, 1/76).
Lebih lanjut Ustadz Abu Nadzira menerangkan, kekuasaan di dalam Islam sebagaimana dinyatakan dalam banyak nash syariah, juga dijelaskan oleh para ulama mu’tabar tidak lain adalah sistem pemerintahan yang disebut dengan nama Khilafah.
Ia menegaskan, inilah yang harus kaum Muslimin perjuangkan. Sebabnya, tanpa Khilafah, hukum-hukum al-Quran mustahil bisa ditegakkan.
“Itulah mengapa, kaum kafir dulu berusaha menghancurkan Khilafah. Tidak lain agar dengan itu mereka mudah menjauhkan kaum Muslim dari al-Quran. Akibatnya, al-Quran tinggal bacaan dan hapalan, sementara hukum-hukumnya dicampakkan dan ditinggalkan. Tak lagi dijadikan pedoman kehidupan. Akhirnya, kita terus berada dalam era kegelapan. Itulah yang terjadi sampai sekarang,” bebernya.
Untuk itu, Ustadz Abu Nadzira menyerukan kepada para jama'ah dan kaum Muslim pada umumnya, untuk menyongsong kembali cahaya Islam. Mari kita tegakkan kembali kemuliaan kaum Muslim.
“Mari kita tegakkan kembali al-Quran! Menegakkan kembali institusi kekuasaan yang mampu menerapkan hukum-hukum al-Quran dalam semua aspek kehidupan! itulah Khilafah Islam. Khilafah ar-Raasyidah ‘alaa minhaaj an-Nubuwwah,” serunya
Karena hanya dengan itu, tegasnya, umat ini bisa lepas dari belenggu kegelapan menuju cahaya Islam. Hanya dengan itu pula ‘izzah al-Islaam wa al-Muslimiin (kemuliaan Islam dan umatnya) bisa kembali diwujudkan.
Itulah yang menurutnya diisyaratkan oleh Imam Malik rahimahullâhu. (At-Tirmidzi, Adhwâ’ al-Bayân [Mukhtashar asy-Syamâíl Muhammadiyyah]), 2/282):
لَنْ يُصْلِحَ آخِرَ هَذِهِ الأُمَّةِ إِلاَّ مَا أَصْلَحَ أَوَّلَهَا
“Tidak akan pernah bisa memperbaiki kondisi generasi akhir umat saat ini, kecuali apa yang telah terbukti mampu memperbaiki kondisi generasi awal mereka.” pungkasnya. [] Muhar
0 Komentar