
Aktivis Dakwah Ustadz Abu Nadzira menegaskan, hanya dengan penerapan Islam yang Kaaffah umat Islam akan kembali meraih kemuliaan.
"Sungguh, hanya dengan Islam yang diterapkan secara Kaaffah, umat ini akan kembali meraih ‘izzah (kemuliaan)," tegasnya dihadapan lebih dari seribuan jama'ah, dalam Khutbah Idul Fitri 1446 H di Lapangan atau Area Parkir Rumah Makan Pecel Lele PJA, Jalan Raya Viktor, Buaran, Serpong, Ahad (30/3/2025).
Ia mengungkapkan, hal itu sebagaimana yang pernah terjadi pada masa Baginda Rasulullah Saw. yang mampu mengangkat derajat bangsa Arab menjadi mulia.
Dan juga, seperti masa Khulafaur Rasyidin yang sanggup menaklukkan adidaya Romawi dan Persia.
"Dan seperti masa Kekhilafahan Umar bin Abdul Aziz yang mampu mensejahterakan rakyatnya secara merata. Seperti masa kekhilafahan Abbasiyah dengan segala kemajuan sains dan teknologinya yang luar biasa dan menginspirasi dunia. Seperti peradaban Islam di Andalusia yang menerangi daratan Eropa," tuturnya.
Karena itu, ia pun menyatakan bahwa jalan keluar dari kegelapan yang meliputi kehidupan umat Islam dan seluruh manusia di dunia umumnya pada hari ini, hanya satu, yakni kembali pada Islam secara Kaaffah.
Tidak lain, jelas Ustadz Abu Nadzira yaitu dengan menerapkan secara total syariahnya yang penuh berkah. Demikian sebagaimana yang Allah SWT. titahkan dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah: 208:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا ادْخُلُوْا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kalian ke dalam Islam secara total! Janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu adalah musuh kalian yang sangat nyata.” tandasnya.
Namun, ia menyayangkan, sebagian kalangan pada hari ini masih saja tetap menaruh harapan pada sistem demokrasi untuk membawa perubahan.
"Tentu harapan itu ibarat menanti cahaya dari bara api yang padam. Faktanya, sistem demokrasi inilah sebagai subsistem dari ideologi kapitalisme-sekuler yang justru menjadi akar segala persoalan," terangnya memungkasi. [] Abu Hanif
0 Komentar